Posts

Showing posts with the label Cinta-Cintaan

Alasan

Ash, Jika kau punya satu-dua alasan Untuk mengabaikan cintaku. Maaf sebelumnya, Aku terlalu banyak alasan. Terlalu banyak alasan untuk mencintaimu, Yang ketika hilang satu-dua alasan, Masih banyak alasan lain untuk tetap selalu mencintaimu. Cirebon, 28 Januari 2024

Puncak Kepergian

  Aku hanya mencoba membuat hidup menjadi lebih sederhana. Seperti jika hanya untuk membuang penat tak perlu harus ke Bali atau Karimun dan menambah masalah baru setelahnya. Termasuk keinginanku mengunjungi rumahmu. Agar keinginan ini tidak mengganggu hari-hariku, apalagi saat malam hari sebelum tidur. Maka aku harus ke rumahmu. Aku harap kamu maklum. Setelah itu, bahkan aku belum merencanakannya. Jika begini, entah aku harus menghardik atau memuji Kartini, Aminah Wadud, serta Jeanne d'Arc. Karena mereka memperjuangkan agar wanita bisa dan berani mengambil keputusan. Lalu apa yang membuat kamu berat mengambil keputusan, dengan sekalimat jawaban, "Tak usah datang ke rumahku! ." Aku pun maklum dengan caramu menolak. Entah alasan karena aku tampak memikat, atau karena aku hanya alenia yang tak perlu kamu simak, atau karena alasan lain yang apa aku tidak mau menduganya, yang pada akhirnya keputusanmu, kamu ingin aku jangan sampai mengetuk pintu rumahmu. Keinginanku, d...

Sempat

  Sebelum terlelap, dia pernah bercerita panjang lebar. Tentang nestapa dan derita yang dia dera. Seorang perempuan dengan mata sesayu subuh, pagi menemaninya saat dia belum sama sekali mengerti apa itu cinta. Warnanya, aromanya, gerak melingkarnya, serta rekahan dan pecahannya. Amuk, dan amarah kerap bersandang dengan pakaian kusut yang tak sempat disetrika, sekedar disemprotkan parfum zara. Saling mengikat, dan melingkarkan rantai dikira adalah cara terbaik mempertahankan sebuah hubungan yang selalu menjadi prioritas utama. Sesuatu yang paling berharga akan selalu didekap. Pikirnya dulu. Ku lirik jam pada dinding menunjukan angka 02.20.   Pernah suatu pagi, saat kau masih terlelap dalam mimpi. Aku mengecup keningmu mesra. Semua ini tidak akan berakhir, sangkaku saat itu. Menjadi makhluk merdeka memang menyenangkan. Namun penuh jebakan tak terduga. Benar katamu, lelaki itu berhasil mengikat mimpi-mimpiku. Tapi tenang, hatiku utuh untuk kamu. Aku diburu sesak di dada setel...

Usai?

  (K epada Perempuan yang sudah usai? )   Catatan kecil untuk senyuman yang pernah tersimpul untukku, tepat pada waktu yang rawan, hingga membuatku terpaku. Mungkin, Aku harus menjadi seorang yang lain . Agar aku layak me nyandang seluruh  rasaku akanmu.   Waktu seperti behenti berputar Sejak aku menatap ke dalam matamu. Aku butuh kesadaran penuh, Agar aku bisa mewujudkan Semua hayalku . Kamu pancarkan kecantikanmu dari dalam, Wajahmu hanya cerminan kelembutan hati.   Pertanyaannya, Kapan waktunya untuk mengucapkan Aku cinta kamu? Sementara waktu sudah berhenti berputar Sejak aku menatap matamu.     Aku  gemetar saat  dekat denganmu, Kamu tahu apa yang aku rasa? Ya, kamu sempurna dalam hayalku. Sering aku berharap Semoga hayalku akanmu menjadi nyata dan indah, Namun harapku untuk selalu gemetar memangku rindu padamu, Lebih besar dari harapku pada hayal yang menjadi nyata. ...

Firasat

  Aku pamit. Dari kejauhan aku melihat awan hitam. Bergulung Berkendara angin menuju kemari. Aku tak bisa menghitung pasti kecepatannya. Di atasnya, Kilatan cahaya bergantian, saling berkejaran menyapa bumi. Merubah dedaunan menjadi merah api. Entah Thor, Zeus, atau Indra. Atau inkarnasi ketiganya. Aku hanya tahu, itu tanda petaka. Aku pamit. Bukan badai atau gemuruh gempa yang aku takutkan. Sedangkan congkak dalam tubuhmu yang renta Tak akan mampu mengembalikannya. Karena sejak Saturnus mencumbu Dewi Bulan Miliaran tahun silam. Congkak dan rasa bangga selalu mendatangkan masalah. Pula Galileo, sampai Leonardo. Bahkan ketika sajak-sajak Rumi, Chairil, dan Kafka merubah rotasi bumi. Congkak adalah sumber malapetaka. Aku pamit. Yang aku tahu Kau tak pernah berkenalan dengan Sokrates, Plato, Gauthama, apalagi Hermes. Kau hanya tahu Ghazali dan Jailani, yang sudah kau sangka kebenaran hakiki. Hingga kau congkak setengah mati. Aku pamit. Firasatku lebih...

Hand Palm

  Aku kira kisah percintaanku sudah selesai, atau jangan-jangan belum dimulai sama sekali. Sedang cinta telah berkali-kali menyapa, Sesekali datang dengan irama terbaiknya, Sesekali hanya mendendangkan suara-suara keraguan. Tidak terlalu berlebihan jika merasa kegerahan, Karena mulut sudah enggan mengucap sumpah. Aku selalu saja mengatakan Kalau cinta dan percintaan itu berbeda sama sekali. Tetapi tetap saja ketika cinta mengalun Entah sumbang atau merdu Aku ingin sekali segera mencumbumu Atau segera melepaskanmu.   Kamu datang, menghentikan gerak tanganku. Segera aku pungut kembali sisa mimpi semalam, dalam mimpiku, ketika sinar mentari hanya mengintip dari sela-sela mendung, dan mendung belum berani menyimpulkan hujan, hanya sedikit bercengkrama dengan angin. Akan tetapi mendung tidak lantas pergi dan tetap berdiam di tempat malah selayak manaungi, tepat di atasku yang terpana menatapmu yang melangkah menghampiriku. Kamu tidak berhasil menyembun...

Who?

     Sepanjang perjalanan aku membayangkan bagaimana jika bumi ini sudah tak ada pepohonan? Apa yang kelak akan aku ceritakan kepada anak cucuku? Sebab aku berencana menikah dan punya anak meskipun hanya satu atau dua. Di tengah perjalanan, aku sempat ingin menyerah. Seketika langit gelap seolah melahapku dengan buas. Aku abaikan semuanya. Bagiku, tidak adanya kamu, dunia ini sudah tak berarti. Sia-sia adalah kata yang tepat untuk menggambarkan hidup. Namun ada pilihan yang membuatku kembali bangkit. Diam berarti mati, bergerak pun berarti mati tapi lebih banyak yang bisa dinikmati. Puncak sebentar lagi. Aku sampai sini saat senja. Sebelum matahari terbenam menuju temaram. Namun kamu masih bisa menikmati gumpalan-gumpalan awan berarak dari utara ke selatan. Berbaris rapi menuju matahati, yang semoga tidak tenggelam seperti matahari senja ini. Kamu juga bisa menikmati gradasi warna kuning, merah, biru, dan hitam. Paduan cerah dan gelap memang selalu memukau. Kadang aku k...

Tugasku

Tugasku adalah menerima segala badai yang terbit darimu. Perihal rimba masalalu yang masih bergelantungan di tangga nada, di bait-bait lagu, di benda, tempat spesial, dan juga bibir yang pernah mengecup lembut keningmu yang membuat kenang tak kunjung reda lalu berakhir menggenang di pelupuk mata. Api yang membakar rahsa kala itu bergelora, berkecambuk di dada. Aku terjebak diantara masa lalumu ketika itu pula seluruhku terenyak lebur tersisa 

Tentangmu #3

Kala nada kicauanmu sedikit sumbang Pada saat itu hatimu bimbang Getarmu pada suara Mengigatku pada suatu masa Dan pada saat itu pula Kuharap sajak ini Tersampaikan oleh semesta Abadi tak ditelan masa Rasa ini Semerbak wangi Diantara dahan-dahan Yang laun melamban Menggetarkan pelan Rindang dedaunan Kisah kita baru saja dimulai Sejak aku menyerahkan puisi Yang lahir dari kedua matamu Yang sedang berseri Amdba Yogyakarta, 13 Desember 2019

Tentangmu #2

Dirimu tertunduk lesu Terbuai waktu Terbentur jarak Pada air yang beriak Kedatanganku Adalah gelombang kejut Tanpa permisi Mengalun lembut Pada matamu Kesekian kalinya Aku berharap banyak Pada Dia Yang mengantarkanku padamu Di ujung waktu Aku bersila diantara duka Yang membasahi matamu Lalu, kuseka dengan rasaku Kau sandarkan dirimu Pada bahu yang kaku Adalah milik diriku Yang kian rapuh Azimat itu adalah suaramu Yang terngiang jelas ditelingaku Yang menguatkan hati Yang pernah terpatri janji Kian meranggas Enggan lepas Amdba Yogyakarta, 12 Desember 2019

Tentangmu #1

Segala yang bertajuk mesra Kian gembira Kehadirat khusyuk Pada semesta raya Suatu mula Yang bukan apa-apa Menjadi berarti Ketika dianggap hati Rasa yang semula tiada Mengada Karenamu membalasnya Dengan halus di bibirmu Akhirnya kupasrahkan Semua kesepian Padamu Segala ramai Pelabuhan terakhir Asa dan Rasa Cepat bertemu, waktu Amdba Yogyakarta, 10 Desember 2019

Telisik

Aku tau kamu banyak kegiatan dan hari-harimu tidak selalu tentang aku. Makanya, aku buat rindu ini agar tidak menganggumu.. maaf jika berisik, terima kasih karena sudah mengerti.

Penjaga

Mataku menghitam menjaga malam Menjadi peronda yang merindu Syahdu yang menggebu Lisan yang tersipu malu Ah sial! Hadirmu menghentikan laju logika Membuat nalar yang nanar membuta Sepasang mata mu melahirkan rasa Yang mengisi, segala bait-bait kosong Yang semula tak berarti. Americano malam ini menjadi saksi Hitamnya membuatku tenggelam Dalam lautan sunyi, yang tengah bernyanyi Syair-syairnya suci membuat bulu kuduk berdiri Wajahmu tergambar di mulut cangkir Membuat segala resah tersingkir Akhirnya, kunikmati jua rasamu Pahit yang menghentikan laju logika. Terlahir dari udara dingin Juga cuaca yang berangin Jauh di ufuk timur Tempat rasa yang tenggelam Kembali ingin. Amdba Malang, 11 Oktiber 2019

Perpisahan Sementara

Dia menatapku teduh, lalu aku tau airmatanya hampir jatuh. Lalu, ia menaikkan alis dan tersenyum manis. Kalo gak ada bapak itu sudah kupeluk erat tubuhmu, sembari menyeka air matamu di dadaku. Katanya "ini apa? Makasih ya.." lalu di dalam hatinya ia berkata "Aku beruntung memilikimu". Tapi, nyatanya kita yang beruntung bukan hanya kamu atau aku karena kita telah saling melengkapi dan memiliki. -amdba Di atas motor Malang, 14 Oktober 2019

Alasan Mencintaimu

Iya, tidak ada Apakah cinta membutuhkan alasan? Menurutku tidak. Semuanya tidak terduga. Amdba Yogyakarta, 7 Oktober 2019

Merindu Senja

Wahai senja, tak peduli secepat apapun kau menghilang, kepastianmu adalah kembali bukan? Kerinduan ini selalu menggebu setelah temu. Aku selalu ingin menghentikan waktu, tak mau ada pengganggu. Biarkan kuhabiskan seluruh waktuku bersamamu, menjalin kisah-kasih yang hangat. Sorot matamu adalah objek favoritku saat bertemu karena selalu berhasil menenggelamkanku. Kaulah senjaku, kuning menjingga yang menolak kelabu. Amdba 30 September 2019

Dasar, Tak Terduga

Di pagi yang paling buta Sepasang mata bertahan terbuka Demi rindu yang terus bergejolak Yang tak mampu kutolak Kau tau? Suaramu di handphone mencoba kupeluk. Sial! Teriakku. Tuhan itu suka banget main-main denganku, yang namanya buat ujian yang keren dan tak terduga sudah pasti keahliannya. Tuhan itu mempertemukan rasa dengan seseorang yang tak terduga, di waktu yang tak terduga, dan tempat yang tak terduga. Pantas saja di dalam sains Dia dianggap Law of Unpredictable (Hukum tak terduga) memang tak bisa diprediksi.. walaupun kau sudah jago di Law of Attraction (Hukum tarik menarik) tapi, tetap saja ada hal penting yang tak bisa terelakkan yaitu LOU. Kembali ke topik, aku sebenernya pengen tanya ke Tuhan kenapa rindu itu seperti soal eksak yang jawabannya itu sudah pasti dan tak ada opsi lain. Tau jawaban rindu? "Bertemu" bisiknya pelan. Katanya gak boleh liat aku, kalo mau liat cukup di Sg sama ketemu langsung. Gak tau alasannya apa, katanya takut di jampi-jampi dikira ...

Perawalan

Detik mengalun pelan Degub berlarian Katanya waktu berajalan sangat lambat untuk perihal melupakan? Karena memori yang tersimpan? Rekahnya harapan? Atau dosa-dosa indah yang dia berikan? Tenang saja, derita setengahmu kutanggung Tangismu akan kuseka Lukamu akan ku obati Segera sembuh, kekasih Jarak kita terbentang, tapi kau tau? Jarak terjauh adalah saat kau memunggungiku? Aku bukan fiersa besari, yang tak mau jika hanya setengah dirimu saja yang hadir, lalu ia memutuskan pergi. Aku tidak sepengecut itu. Semua orang menginginkan seluruh, tapi bagaimana jika baru separuh? Tak apa, perlahan-lahan. Tidak ada yang baik perihal paksaan. Bukankah cinta adalah kerelaan? Jika jatuh cinta kepadamu sepaket dengan patah hati, aku tak peduli! Lagi dan lagi.. aku menikmatinya. Jangan menangis, basah air mata menghilangkan binar matamu, lalu lembablah pipi yang menggemaskan itu. Seluruhmu adalah candu kau tau? Kadang ketika pagi sarapanku adalah fotomu. Pelengkap kopiku adalah gurat ...

Jika Memang

Jika memang dia membutuhkanmu dia akan datang Jika memang dia merindukanmu dia akan menelpon Jika memang dia menginginkanmu dia akan bilang Jika memang kamu tidak bernilai untuknya, dia tidak akan menghabiskan waktunya untukmu -amdba Kediri, 28 september 2019

Petani Rasa

Aku layaknya petani Tercipta untuk memelihara, mengambil peran untuk menumbuhkan. Lalu, memanen atau melepaskan. Ketika rasa ditanam, kau harus memelihara, ia akan tumbuh. Tak perlu kau paksa tumbuh, rasa bukan tentang hasrat kuasa, atau kehendak memaksa. Ia alami, mengalir di nadi. Lalu, kau harus bertanggung jawab menjaganya agar utuh, tetap tumbuh, dan hidup. Akan ada hama, badai, dan segala rintangan yang harus dihadapi bersama. Tak boleh ada kata menyerah yang berujung pisah. Kami bersama-sama menyemai rasa, hingga ia bertahan sampai Tuhan memutuskan. Kediri, 25 September 2019