Tahun Ketiga: Belajar Bernapas Tanpa Suara

Tahun ketiga sejak ayah pergi

sunyi tak lagi menjerit,

ia belajar duduk manis

di sela dada,

menjadi denyut yang tak terlihat

namun setia.


Dulu, kehilangan terasa seperti laut

yang menelan arah.

Kini, ia seperti sungai

yang mengajarkanku mengalir,

meski batu-batu tetap melukai kaki.


Ayah,

namamu kusebut dalam diam

yang panjang dan khusyuk.

Bukan untuk memanggilmu pulang,

melainkan agar aku ingat:

aku pernah dicintai

tanpa syarat,

tanpa jeda.


Para Mursyid berbisik padaku:

yang kau sebut wafat

hanyalah yang berganti rupa.

Cinta tidak mengenal kubur,

ia hanya berpindah alamat

dari pelukan

ke dalam doa.


Pada tahun ketiga,

air mata tidak lagi jatuh sembarang.

Ia turun dengan adab,

seperti sujud yang tahu arah.

Aku mengerti kini:

Tuhan tidak mengambil untuk menyiksa,

Ia mengosongkan

agar diri ini bisa diisi

dengan keikhlasan yang lebih luas.


Aku mulai menemukan ayah

di hal-hal kecil:

pada kesabaran yang tiba-tiba hadir,

pada langkah yang tetap maju

meski gemetar,

pada keberanian

untuk berharap lagi.


Ayah pernah berkata—

tanpa kata:

“Jangan tergesa ingin sampai.

Yang matang tak lahir dari terburu-buru.”


Maka aku belajar berjalan pelan,

menjahit hari dengan doa-doa lirih.

Perlahan tapi pasti,

segenap harapan itu akan mewujud pelan-pelan,

seperti cahaya yang tak memaksa pagi,

namun akhirnya

mengalahkan malam.


Jika rindu menyesak,

aku letakkan ia di hadapan-Nya.

Sebab di hadapan Tuhan,

tak ada yang benar-benar hilang—

yang ada hanya perjumpaan

yang ditunda

dengan cinta yang disucikan.


Jakarta Selatan, 17 Februari 2026



Comments

Popular posts from this blog

Tabah

Triwikromo

Rumah dan Pulang