Lembaran-lembaran sepi dieja dengan sunyi dan teliti. Bait-baitnya risau, penuh resah. Yang tak biasa akan ragu. Terbelenggu sukar terjebak belukar keramaian. Lirih jeritan tangis ibu pertiwi Meronta diperkosa anaknya sendiri Tanah airnya luluh lantak Diinjak kapitalis, kolonialis, juga pribumi lupa diri Tak terpungkiri, tubuhnya tertanam disini Tumbuh disini, dirawat disini Mudahnya rusuh, diadu domba Sesama anak asuhnya Dipermainkan oleh kepentingan mereka Ragu, rekah harapan yang pasrah Akan tanah yang tak lagi basah Oleh air yang tergantikan air mata juga darah, keringat buruh tani Yang hasilnya untuk makanan penindas Sungguh kandas, harapku lepas. Ku bernyayi dimarahi, ku bicara dibungkam, lara tak kunjung reda Apa yang harus kita lakukan, jika bukan melawan! Sepi bersimilir nun jauh disana, bersama ombak serat angin yang berpadu menjadi orkestra semesta. Memberi pesan nyata bahwa Ibumu sedang diperkosa oleh anaknya sendiri.. Tangis bukan air mata, darah keri...