Posts

Showing posts with the label Puisi-Puisian

Pasrah

Mataku terpejam rapat Tanganku terlipat Mulutku berkumit Tanganku terjulur ke langit Seperti pendosa yang putus asa Rela terbawa kemana saja Entah neraka atau surga Aslkan ada Dia Aku rela. -amdba

Kepada Kopi

Kepada kopi Terimakasih telah menjadi bagian dari hidup menjaga kesadaran tidak redup Hitam dan pahit namun disyukuri Tambah gula atau susu itu selera Bukan untuk diperdebatkan Seperti indonesia, jangan cari perbedaan di sini Terlalu banyak Carilah persamaan, sehingga kita bisa bersatu Menjadi bangsa yang utuh Abdi kepada tanah dan ibundanya Teruntuk Ibu pertiwi dan Ibu bumi Terimakasih dan maafkan kami Yang masih saling menyakiti Sibuk bertengkar bukan mengasihi Sibuk membenci dan lupa mencintai Amdba Kediri, 2 Oktober 2019

Kekosongan

Kekosongan yang berisi, bermakna meng-arti. Sebab Kosong, bukan berarti tidak ada Ia menjelma rupa-rupa Berjumlah tak terjamah Dia, ada sekaligus tak ada . Tanpa kosong Tidak akan ada yang mengisi Tidak akan ada yang mengawali Yang ada hanya lupa diri, sebab sepi dan sunyi sebenarnya adalah sejati -amdba

Membalas karena apa?

Membalas rasa bukan karena rasa iba atau tidak tega. Tapi hargai ia karena sudah berusaha, hasilnya nanti tidak perlu dinanti-nanti.. biarkan saja mengalir terbawa hingga hilir. Jika memang dia adalah muara, pasti kau akan berlabuh. Teruntuk dirimu Yang terasa jauh Tempatku biasa berteduh Hingga tunduh Kembali mengeluh Lidah ku keluh Menjadi rapuh Semoga tidak kaku Apalagi saat bertemu Pada kali ketiga Aku menagih Rasa yang tertindih Ego yang mendidih Mulai panas Nafsu memberingas Meringsek masuk Ke alam kesadaran Hingga terjebak Semak belukar Yang mengakar menuju rimba Yang menggantung di masa lalu Ketakutanku semakin menjadi Semakin tak ingin lagi Tapi lagi-lagi ingin Ingin pergi, menyelam Menyusuri dasar Hingga tenggelam Jangan angkat aku, dari dasar muara Sampai aku menjadi seluas samudera.

Suwung

Di tengah sepi Di tengah sunyi Hitam pekat yang tampak Gelap gulita tak terjamah Terang dalam gelap tak kusangka Hampa Kosong yang berisi . Dia adalah Dia sebab Dia kepastian Dia tak terduga Dia mutlak Awal yang akan sekaligus mengakhiri segalanya. Amdba Cirebon, 25 Agustus 2018

Menitipkanmu kepadaNya

Dalam dekapan malam Sunyinya yang kelam membungkam . Saat tengadah tanganku terbuka CahayaNya menyilaukan mata . Saat detik-detik paling rahasia Kurajut rapalan doa . Kusisipkan bait namamu disana Yang tak lupa kutitipkan kepada pemilikmu, yaitu DiriNya. . Amdba Cirebon, 11 Juni 2018

Dupa

Kuselipkan kebaikan cinta pada partikel udara, melalui asap dupa yang harumnya merasuk ke jiwa. . Kuharap setiap doa sampai pada seluruh mahluk alam semesta. Menjamah seluruh dimensi ruang dan waktu. . Detik paling rahasia, waktu yang tak terhitung angka, ruang yang tak terjamah. . DiriMu terpancarkan melalui rembulan malam itu. . Merasuk ke badan menjelma ingatan, ragaku, jiwaku, bergetar, lebur. . Tuhanku, entah berapapun jumlahMu terserahmu Berwujud apapun terserahMu Aku hanya hamba amatiran, yang menghindari perdebatan tentang jumlah dan warna. Karena yang ku tau kosong, hampa, hitam, gelap-gulita. Amdba 30 Oktober 2017

Hujan Air Mata

Kekasih Tunduh, basah yang pilu Yang basah bukan tanah Tapi matamu yang dihantui rindu Amdba Tegal, 27 April 2018

Memusingkan Angka

Pikirku terkuras Mengalir deras Angka-angka rumit Berbelit, sulit! . Tergesa, merekah asa Himpunan fungsi Algoritma Terukir materi Peluangnya menari . Warna-warni hayalku Berwujud boneka kayu Grafis yang mistis Gambatan sinis . Halusinasiku menjelma kata Bermakna kaya raya. Amdba Tuparev, 11 April 2018

Sia-Sia

Tidak ada kata malam ini Ia meleburkan diri Pada gelap Pada sunyi Dan pada apasaja Yang membuatnya pergi . Pada suatu ketika Pada setiap taburan kebaikan Jika kau tak diinginkan Hanya akan timbul angan Dan berhembus angin Amdba Cirebon, 17 April 2018

Tentang Purna

Purna hanya kata Untuk status Bukan rasa Untuk itu hilangkan indentitas Bukan personalitas

Pornografi

Candu ini membelenggu Hasrat yang tabu Untuk mereka yang bernafsu Menunggu sepi untuk berlaku Pornografi Sudah menjamur Menyerang diri, hancur Lebur tak suci Bahkan dari debu Yang lebih suci Dari jasadku Mungkin juga jiwaku Candu ini Membunuh perlahan Merusak jaringan otak Secara pasti Sampai bodoh Selamat tinggal Karenamu aku lambat Menjadi terhambat Untuk menjadi hamba Yang taat kepada Tuhannya Terimakasih Untuk edukasi Yang kulihat Adalah maslahat Tentang hubungan Tanpa cinta Hanya nafsu Sangat hewan Aku malu Sudah Aku malu Diberi akal Jika hanya nafsu Yang membelenggu Amdba 10 Januari 2019

Kecewa

#Verse 1 Ribuan kali aku kecewa Tak terhitung sudah angkanya Air mata kadang mengalir Begitu deras Tenaga yang terkuras Terbuang sia-sia Hanya karena berharap Harap yang tak pasti Kepada hal Fana Yang mewarisi sifat JamalNya Dia adalah Wanita Yang dititipkan Keindahan Tuhan Untuk dinikmati Pria #Verse 2 Jika berani berharap Kepada materi Bersiap untuk kecewa Karena hati yang luka Rasa yang mati Membekas dan menganga Akan terinfeksi Dan kembali berdarah Suatu saat akan purna Jika memang saatnya #Verse 3 Ada kalanya untuk berhenti Berharap kepada materi Yang hanya akan berujung kecewa Sampai mati Sampai kau pulang Air mata akan menggenang Menenggelamkan dirimu Dalam luka yang menganga, sendu Sudahlah, ada Dzat yang lebih luhur Yang tidak dapat diukur Dan kita boleh bersandar Sampai tersadar Bahwa dunia tidak bisa diharapkan lagi Bahwa materi bukan untuk dibawa mati #Verse 4 Kala itu Hanya tersisa dirimu Dan segala kebaikan yang kau perbuat Seke...

Lihat lalu Kaku

Terang berpijar di sela-sela matamu menyeka dada, semua tentang apa? Segaris senyumnya membuat bisu, siapakah dirimu? Yang menahan asa, yang terlihat kaku ketika bertemu.. Amdba Cirebon, 10 Mei 2019

Engkau Maha Asik

Langkah berderak tanpa arah Mencari tujuan sejati yang kabur Tersirat ribuan makna yang fana Tentang khayalan atau nyata Ilusi seakan nyata Kenyataan tak terduga Sebab yang terabaikan Akibat yang diutamakan Sinar yang dikira Bukan cahaya yang dicari Bidadari yang dijanjikan Membuat lalai akan cinta sejati Apakah surga pemuas nafsu? Apakah neraka balasan dosa? Bagaimana jika surga tidak ada? Atau ternyata tidak menyenangkan? Apakah masih menginginkannya? Atau lebih baik hidup abadi saja? Yang dicipta mengharap kebahagian yang diciptakan melupakan pencipta. Bingung antara memuaskan nafsu, atau mewujudkan rindu? Ah, dosa dan pahala dijadikan patokan berlaku. Jadi, terkabul atau pengabul? Embuh ah Arus yang begitu liar namun lembut Ohh.. sungguh Engkau Maha Asik Amdba Cirebon, 4 Agustus 2018

Cinta Bertepuk Sebelah

Dirimu merah merona Aku gelap tanpa rona Dirimu cahaya Aku remang-remang Rasamu diam Rasaku berisik Aksaramu sunyi Aksaraku berbunyi Dirimu sepi Aku lebih sepi Dirimu ramai Aku tetap sepi Dirimu terluka Aku yang berdarah Amdba Cirebon, 20 Agustus 2018

Penyakit

Sebab angkuh, sombong, iri, dan dengki Dibiarkan mengendap di dasar hati Menjadi residu Menganggu kemurnian laku Mengotori jiwa Merusak raga Menghalangi diri dari cahaya. Cahaya yang kumaksud bukan sinar, tapi berupa foton saat tertangkap raga, berupa gelombang saat menyentuh jiwa. Ini penyakit yang utama, yang menyebabkan penyakit turunan lainnya yang merusak organ seperti kanker, serangan jantung, diabetes, struk, gagal ginjal, rusaknya hati, dan lainnya. Sebelum terkena mari membenahi diri.. Amdba Cirebon, 27 Januari 2018

Bilamasa

Sekali bernyawa Yang utuh akan sirna Yang ada disia-sia Rasa akan purna Tersisa bekas luka, menganga Terpapar udara Terinfeksi Dirundung duka Berbaring rasa Terenyak, lebur Tersisa asa. Amdba Cirebon, 27 Maret 2018

Sumpah Aku Pemuda yang Ingkar

Lembaran-lembaran sepi dieja dengan sunyi dan teliti. Bait-baitnya risau, penuh resah. Yang tak biasa akan ragu. Terbelenggu sukar terjebak belukar keramaian. Lirih jeritan tangis ibu pertiwi Meronta diperkosa anaknya sendiri Tanah airnya luluh lantak Diinjak kapitalis, kolonialis, juga pribumi lupa diri Tak terpungkiri, tubuhnya tertanam disini Tumbuh disini, dirawat disini Mudahnya rusuh, diadu domba Sesama anak asuhnya Dipermainkan oleh kepentingan mereka Ragu, rekah harapan yang pasrah Akan tanah yang tak lagi basah Oleh air yang tergantikan air mata juga darah, keringat buruh tani Yang hasilnya untuk makanan penindas Sungguh kandas, harapku lepas. Ku bernyayi dimarahi, ku bicara dibungkam, lara tak kunjung reda Apa yang harus kita lakukan, jika bukan melawan! Sepi bersimilir nun jauh disana, bersama ombak serat angin yang berpadu menjadi orkestra semesta. Memberi pesan nyata bahwa Ibumu sedang diperkosa oleh anaknya sendiri.. Tangis bukan air mata, darah keri...

Kepasrahan

Membiarkan diri tenggelam dalam samudera Terseret arus hingga kehilangan arah . Terjebak di palung terdalam Rindu yang semakin karam Menggumpal, kubiarkan timbul-tenggelam Seakan kau lepaskan . Di tengah samudera Dihantam ombak sepi, dipeluk alunan sunyi Tiba-tiba wangsit datang menghampiri Menjawab keresahan yang menjadi-jadi . Di ujung ufuk barat, tengadah mengada Rapalan doa menjadi tuntunan arah Runtutan kejadian yang tak ada habisnya Proses menuju daratan sejati Yang dijanjikanNya kepada para pecinta . Saat ini Aku bukanlah masalalu Belum tentu masa depan Aku adalah yang sedang terjadi . Ada kalanya di suatu masa Kita butuh waktu berdua, menafsirkan rindu, menjeda sendu Hanya kita berdua melengkapi semesta raya. -AmdBa Cirebon, 6 Oktober 2017