Posts

Showing posts from 2020

Muhammadku dan Muhammadmu

Dalam permenungan hujan, tidak di tengah gurun  bersaji fatamorgana teringat kisahmu yang menawan dari kisah perang hingga percintaan. Singkatnya, aku mengagumi kamu. Tidak sekedar mengidolakan hanya terbuai pada kisah sejarah dan memutar-mutar ulang mp3 sholawat untuk  memuji. Aku kira lebih dari itu cara mengagumimu, dan caraku mempuisikanmu bertransformasi setiap waktu. Jika aku lebih  tertarik dengan; bagaimana caramu melewati waktu saat sebagian saudara dan warga kota mengucilkanmu?  Bagaimana cara mengendalikan diri saat kamu dihardik tanpa balas menghardik tapi justru memaafkan bukan maaf pura-pura? Bagaimana caramu menyatukan Anshor dan Muhajirin?daripada sekedar melantunkan sholawat dan ikut  komunitas pengidolamu.  Boleh kah jika aku tidak bersholawat? Maksudku tidak nampak melisankan sholawat, namun aku ingin menirumu. Kamu tidak seperti Musa yang congkak, tidak bimbang seperti Yusuf, tidak  juga membuat bahtera, juga tidak perlu membelah la...

Ketetapan

Sudah tak terhitung lagi,  Berapa detik-menit sudah terlewati.  Siapkah untuk berhenti?  Barangkali hanya sejenak,  Sembari mengamati,  Butiran harap yang berserak.  Bercandaan Tuhan yang paling menyebalkan itu ketika Dia mengatakan 'Aku lebih tahu apa yang kalian (baca:makhluk) butuhkan' tetapi Dia juga mengatakan 'Mintalah padaKU' Aku pernah selalu meminta-minta, bermacam hal dari mulai yang sepele sampai yang penting aku minta kan, tapi lebih sering berujung kekecewaan. Akan tetapi sekarang aku lebih suka menerima apapun yang menimpaku. hitung-itung membiasakan diri dengan apa yang biasa disebut dengan pasrah dan ikhlas. Karena setelah aku pikir-pikir lagi, dengan melihat kedua redaksi Ucapan Tuhan, aku jadi menyimpulkan bahwa hanya seolah-olah saja kita punya pilihan (bisa minta ini-itu) namun ternyata sebenarnya kita tidak pernah punya pilihan sama sekali. Hasilnya, aku merasa lebih tentram, dan lebih bisa menahan emosi, dan lebih bisa bersyukur dan be...

Manusia dan Atom

Manusia adalah reaktor nuklir. Hati-hati dengan inti amarah/inti nafsu/inti atom, gunakan dengan sebaik mungkin karena jika tidak stabil akan menyebabkan radiasi yang luar biasa. Perihal atom, seluruh benda atau mahluk (Materi) di dunia ini tersusun dari rangkaian molekul-molekul atom. Dan sejatinya kita sebagai manusia berada di posisi netral (neutron) kita bisa melepas hal2 negatif (elektron) atau menerima hal2 negatif. Ketika sudah mulai melepas hal2 negatif (elektron) maka, yang dominan adalah (proton) alias positif. Jangan pernah juga berharap kepada mahluk karena mahluk itu tersusun dari atom yang akan terus bergerak sehingga setiap mahluk pasti akan berubah. Berharap saja kepada Tuhan karena Dia tidak berwujud materi. Entahlah berwujud apa, mungkin gelombang.. ah tidak Dia tidak akan bisa dijelaskan. Kalo bisa dijelaskan mungkin aku tidak akan percaya kalo Dia adalah Tuhan. Ya aku hanya hamba amatiran yang menjauhi perdebatan tentang jumlah, bentuk, dan warna karena sejatinya se...

Demi Masa

Puisi Demi Masa (Terinspisari Surat Al-Ashr) . . Demi Masa Semburat asa, Menyeruak di akhir masa. Fajar dan senja; Singgah bergantian pada cakrawala, Sederet kisah menyapa Merayu dan membercak di jiwa. Akhirnya: Kita hidup hanya satu kali kesempatan, yang seolah punya banyak pilihan. Padahal kita tidak memiliki pilihan apapun. Kita tidak dituntut untuk memilih antara kesedihan atau kebahagiaan, antara teman atau kesibukan, antara belajar atau pekerjaan, antara menabung atau memanfaatkan, antara dilupakan atau melupakan, antara tinggal atau meninggalkan, antara diri sendiri atau sesama, antara asmara atau kata-kata. Satu kali kesempatan yang membuat kita terperangkap di dalamnya. Kita hanya dituntut untuk bagaimana cara menyikapi hidup; dengan keluh kesah atau menyikapi dengan Indah. Kita selalu bersembunyi di balik cerita karangan kita sendiri demi pembenaran atas segala laku kita. Kita membuat banyak alasan sampai kita tersesat sendiri. Kita membuat sekat yang ...

Usai

Semuanya terlanjur bungkam, Adalah tersekap nyala temaram. Lentera ku kira terang, Hanya sekejap lalu hilang. Semuanya terlanjur buram, Adalah amarah menggenapi malam. Kegagalanku memahami corak Tawa-tangismu berombak dan beriak. Semuanya terlanjur kelabu, Adalah hanya ada warna nafsu. Sepintas cerah pada bias, Kau dan aku perlahan ranggas. Semuanya terlanjur karam, Adalah hanyut tenggelam. Ego tak terkendali makna, Sejak akal tak lagi guna. Logika dan nalar jadi pemalas, Aku dan kamu terlalu cepat memanas. Semuanya menuju sirna, Karena rasa terlalu banyak nama.  11 Sepetmber 20

Teguk

Kala kopi mulai keteguk, kepala mengangguk mengiyakan hal yang menyesakkan. Perihal keadaan tak ada yang baik-baik saja. Untuk menghadapainya kala bosan, kala sepi, adalah menyibukkan diri bukan mencari pelarian. Kekecawaan yang mendalam lahir dari rahim penderitaan fisik dan batin dari rasa kasih dan sayang yang terlalu diabaikan.

Sandaran

Apanya yang sandaran jika bukan satu-satunya apaguna bahuku, jika yang kau gunakan adalah bahunya. Jika air matamu karenaku, yang boleh menyeka hanya tanganku Jika tidak, itulah pertanda badai akan datang dan sang puan akan meninggalkan.

Tabah

Tetap tabah  meski basah akan membuatmu menggigil. Jika hujan adalah berkah kenapa kau berteduh? Kekasih, apakah kau benar-benar mencintaiku? atau degup dadamu penuh dengan keraguan? atau ada sosok yang berhasil menggantikanku? Bersyukurla

Tugasku

Tugasku adalah menerima segala badai yang terbit darimu. Perihal rimba masalalu yang masih bergelantungan di tangga nada, di bait-bait lagu, di benda, tempat spesial, dan juga bibir yang pernah mengecup lembut keningmu yang membuat kenang tak kunjung reda lalu berakhir menggenang di pelupuk mata. Api yang membakar rahsa kala itu bergelora, berkecambuk di dada. Aku terjebak diantara masa lalumu ketika itu pula seluruhku terenyak lebur tersisa