Posts

Ironi

 Orang awam pikir kesulitan untuk melupakan dan memilih terbiasa itu karena masa lalunya semakin cantik dan menarik. Padahal ia tidak pernah terlibat dalam suatu hubungan fraktal yang tanpa alasan tiba-tiba jiwa langsung “click” connect.  Bagaimana aku bisa larut terhadap kecantikan dan kemenarikan dia di layar gawai? sedangkan aku tau betul apa yang tak nampak di permukaan seperti bare facenya, breakoutnya, bruntusannya, belekannya, ketombenya, aroma alaminya, aroma lambungnya, ilerannya, wangi keringatnya, sisa cabe gudeg mercon yang iseng menempel di giginya dan segala ketidaksempurnaan yang melekat padanya. Sungguh ironi bukan? setelah itu yang digaungkan adalah fisik, fisik, fisik serta kesalahan-kesalahan tanpa ada sedikitpun konstan memori tentang betapa banyak hal besar dan bermakna yang telah dilalui?  Kau pikir maqom cintaku hanya sebatas di dzohir saja? rendah sekali. Lebih dari itu, melampaui ruang dan waktu.

Puncak Kepergian

  Aku hanya mencoba membuat hidup menjadi lebih sederhana. Seperti jika hanya untuk membuang penat tak perlu harus ke Bali atau Karimun dan menambah masalah baru setelahnya. Termasuk keinginanku mengunjungi rumahmu. Agar keinginan ini tidak mengganggu hari-hariku, apalagi saat malam hari sebelum tidur. Maka aku harus ke rumahmu. Aku harap kamu maklum. Setelah itu, bahkan aku belum merencanakannya. Jika begini, entah aku harus menghardik atau memuji Kartini, Aminah Wadud, serta Jeanne d'Arc. Karena mereka memperjuangkan agar wanita bisa dan berani mengambil keputusan. Lalu apa yang membuat kamu berat mengambil keputusan, dengan sekalimat jawaban, "Tak usah datang ke rumahku! ." Aku pun maklum dengan caramu menolak. Entah alasan karena aku tampak memikat, atau karena aku hanya alenia yang tak perlu kamu simak, atau karena alasan lain yang apa aku tidak mau menduganya, yang pada akhirnya keputusanmu, kamu ingin aku jangan sampai mengetuk pintu rumahmu. Keinginanku, d...

Firasat

  Aku pamit. Dari kejauhan aku melihat awan hitam. Bergulung Berkendara angin menuju kemari. Aku tak bisa menghitung pasti kecepatannya. Di atasnya, Kilatan cahaya bergantian, saling berkejaran menyapa bumi. Merubah dedaunan menjadi merah api. Entah Thor, Zeus, atau Indra. Atau inkarnasi ketiganya. Aku hanya tahu, itu tanda petaka. Aku pamit. Bukan badai atau gemuruh gempa yang aku takutkan. Sedangkan congkak dalam tubuhmu yang renta Tak akan mampu mengembalikannya. Karena sejak Saturnus mencumbu Dewi Bulan Miliaran tahun silam. Congkak dan rasa bangga selalu mendatangkan masalah. Pula Galileo, sampai Leonardo. Bahkan ketika sajak-sajak Rumi, Chairil, dan Kafka merubah rotasi bumi. Congkak adalah sumber malapetaka. Aku pamit. Yang aku tahu Kau tak pernah berkenalan dengan Sokrates, Plato, Gauthama, apalagi Hermes. Kau hanya tahu Ghazali dan Jailani, yang sudah kau sangka kebenaran hakiki. Hingga kau congkak setengah mati. Aku pamit. Firasatku lebih...

Revolusi Pemikiran Islam : Jejak Ali Syari'ati Mengartikulasikan Islam Progresif sebagai Ideologi Pembebasan

    Islam lahir secara progresif dalam upaya merespon problem-problem masyarakat dan memimpin masyrakat untuk mencapai tujuan-tujuan dan cita-cita yang berharga. Dalam hal ini, Islam dipahami sebgai sebuah pandangan dunia yang konprehensif dan diposisikan sebagai “agama pembebasan” yang concern dengan isu-isu sosial politik, seperti penindasan, diskriminasi, ketidakadilan dan sebagainya. Ini berarti Islam membangun konstruksi peradaban baru yang progresif, partisipatif, tanpa penindasan dan ketidakadilan      Agama adalah suatu ideologi, the way of life, merupakan paradigma baru yang mana dapat mengantarkan orang kepada komitmen untuk membebaskan individu dari belenggu-belenggu di luar dirinya. Agama harus ditransformasikan dari ajaran etos/etis personal   menjadi gerakan revolusioner untuk mengubah tatan masyarakat yang diridhoi oleh Allah Swt. Islam bukan hanya sekedar mengurusi hal-hal fiqih dan ibadah mahdah saja namun diperlukan juga adanya reinterpret...

Keriuh-piuhan

Tanpa common sense kita hanyalah gumpalan atom yang mempunyai kerenggangan sekian mikro yang terus menerus bertowaf antara elektron dan proton dihadapan neutron sehingga disebut materi. serta segala senyawa seperti asam , basa ,   ionik , garam , oksida . dll dalam tubuh hanya molekul pasif yang tak  ber- chemistry . Di luar konteks itu aku cuman pengen menyampaikan sesuatu bahwasanya kita terlalu sering bicara bersyukur, etos, etis, dan bla bla bla lainnya tapi lupa dengan hal-hal mikro yang sangat dapat disyukuri, dipahami, diketahui, diamati, dilakukan, direnungi dan di dian lainnya. Kita bicara grand design lingkungan tapi acuh-tak acuh terhadap rumah,kost, atau tempat singgah lainnya. Kita diskusikan revolusi ndakik-ndakik tapi kamar sendiri saja kotor dan kasur berantakan. ingatkah lirik dari lagu oasis - don’t look back in anger yaitu “ ill start revolution from my bed ”.  kita banyak bicarakan iman,ilmu,amal tapi yang diimplementasikan hanya kekuasaan. Kita te...

Renung-Relung Fatum Brutum Amor Fati

 Kita acap kali berpikir bahwa diri kita ini sangat tidak berguna, sering gagal, trouble maker, sering membuat kekacauan. Padahal untuk kita memulai suatu hal saja itu sudah CUKUP BERANI dan LUAR BIASA. Kita mungkin kerap bosan mendengar kata sabar ini lagi, ikhlas lagi, tapi yakinilah hanya ini keyakinan yang kita punya. Ketika orang-orang cukup tahu bahwa kamu setabah itu, setenang itu. Padahal jauh di dalam, sungguh bergemuruh dan gelisah, tidak semua orang bisa menguatkan dirinya sendiri, tidak semua orang bisa bangkit dengan sepasang kakinya sendiri ; selalu ada yang membutuhkan tawaran bantuan, uluran tangan, bahu untuk bersandar, atau tangan untuk digenggam. Jadi, bertahanlah lagi, hingga besok hari atau nanti, mohon jangan pernah bosan ingatkan diri sendiri, lagi. Dari banyaknya kerisauan yang kita semua takutkan, kita harus semakin mengerti jika Tuhan ternyata begitu yakin terhadap pundak kita sendiri. Tidak perlu memaksakan diri, untuk menjadi people pleasure  ...

Tahun Bertambah, Sedang Aku Masih Satu

Setiap orang berjalan lalu diam dengan membawa niat di kepalanya, berbungkus-bungkus. aku melihat sekelilingku impian-impian tumbuh di mata mereka, menembak ke langit dan pecah jadi hawa-hawa gembira di puncaknya.  Sementara takdir masih melingkar tenang di sela tawa yang di dadanya kian memupuk berkah nama Tuhan.  Pesta selalu saja tentang wajah-wajah yang menyilaukan cerita selanjutnya, merekam apa-apa yang riuh-meriah di mata, lalu rebah di kepala yang ranjangnya terbuat dari kapuk-kapuk doa. Tahun bertambah, sedang aku masih satu. Harapan-harapan kembali baru, meski usia rentan dimakan waktu dan tunggu.  Aku masih merawat cinta yang selalu dikepal hati, menyandera segala macam pelukan untuk tubuhku sendiri, menembus belenggu paling menyedihkan yang ditebus jalur nadi sebagai nyali.  Pada riwayat berikutnya, barangkali puncak kemenangan yang dijalankan hidup bukan sesuatu yang kujadikan medali, melainkan sebagai runcing gigi maut yang menuntunku, bersama sosok ya...