Blog yang berisi pikiran liar dan coretan-coretan dari pemuda yang ngawur. Terkontaminasi oleh filsafat, tasawuf, esoteris, dan pengalaman jatuh cinta sekaligus sakit hati. Selamat membaca, nikmatilah semoga bangun dan terbuka.
Ego
Get link
Facebook
X
Pinterest
Email
Other Apps
Hampir retak lalu terbakar
Redam, rendam, padam
Ego kadang tiba-tiba menyala dan sulit dikontrol. Bahaya yang kurang disadari bisa membakar diri. Ketika sudah ludes terbakar yang tersisa hanya malu.
Tahun ketiga sejak ayah pergi sunyi tak lagi menjerit, ia belajar duduk manis di sela dada, menjadi denyut yang tak terlihat namun setia. Dulu, kehilangan terasa seperti laut yang menelan arah. Kini, ia seperti sungai yang mengajarkanku mengalir, meski batu-batu tetap melukai kaki. Ayah, namamu kusebut dalam diam yang panjang dan khusyuk. Bukan untuk memanggilmu pulang, melainkan agar aku ingat: aku pernah dididik tanpa syarat, tanpa jeda. Para Mursyid berbisik padaku: yang kau sebut wafat hanyalah yang berganti rupa. Cinta tidak mengenal kubur, ia hanya berpindah alamat dari pelukan ke dalam doa. Pada tahun ketiga, air mata tidak lagi jatuh sembarang. Ia turun dengan adab, seperti sujud yang tahu arah. Aku mengerti kini: Tuhan tidak mengambil untuk menyiksa, Ia mengosongkan agar diri ini bisa diisi dengan ilmu, pengetahuan dan keikhlasan yang lebih luas. Aku mulai menemukan ayah di hal-hal kecil: pada kesabaran yang tiba-tiba hadir, pada langkah yang tetap maju meski gemetar,...
Tetap tabah meski basah akan membuatmu menggigil. Jika hujan adalah berkah kenapa kau berteduh? Kekasih, apakah kau benar-benar mencintaiku? atau degup dadamu penuh dengan keraguan? atau ada sosok yang berhasil menggantikanku? Bersyukurla
Jangan campuri warna hitamku yang kekal, Ia adalah malam tanpa bintang, Pekat, dalam, tak tergoyahkan, Bukan sekadar bayang di balik tirai. Hanya hamparan garis edar Warna-warnimu mungkin bersinar terang, Merah jambu, biru langit, kuning mentari, Namun mereka hanyalah kilau sementara, Mudah pudar di bawah cahaya mentari yang kasar. Hitamku adalah rahasia malam, Tempat kegelapan dan ketenangan berpadu, Ia tak butuh cahaya untuk bersinar, Tak perlu pelangi untuk mengukir makna, Sebab, hitam adalah makna itu sendiri Mungkin warna-warnimu indah, namun rapuh, Mereka menari dalam kegembiraan sesaat, Sedangkan hitamku berdiri kokoh, Dalam keabadian yang tak tergantikan. Jadi biarkan hitamku tetap murni, Tak tersentuh oleh keceriaan yang sementara, Karena dalam hitamku, kutemukan diriku, Dalam kekalnya tenang yang takkan pernah layu.
Comments
Post a Comment